Selasa, 09 Agustus 2011

STANDAR PELAYANAN MINIMAL SMA/SMK AKAN DIBUAT


ebenezer sihotang
TALENTNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Nasional akan membuat Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk jenjang SMA dan SMK, sebelumnya untuk SPM SD dan SMP sudah dibuat. Tujuannya agar setiap sekolah wajib mengontrol mutu dan layanan pendidikannya berdasarkan SPM tersebut.

Hamid Muhammad, Dirjen Pendidikan Menengah mengahatakan hal tersebut saat serah terima jabatan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI), Kemdiknas, di Gedung Kemdiknas, Jumat (5/8).

 Hamid mengatakan, tugas pertamanya adalah untuk membuat SPM di jenjang pendidikan menengah, dan nanti berdasarkan SPM tersebut, Kemdiknas akan mengalkulasi biaya untuk membiayai SPM di tiap sekolah. Selanjutnya, dari kalkulasi biaya tersebut, akan dihitung besar bantuan yang akan diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota.

Sehingga, besaran biaya yang ditarik dari masyarakat dapat ditekan atau beban sekolah untuk masyarakat akan berkurang. "Kalau tidak ada SPM, sekolah tidak terkontrol menetapkan berapa biaya sekolah," kata Hamid.

Menurutnya, ketentuan mengenai SPM pendidikan menengah akan dituangkan dalam Permendiknas, seperti halnya SPM pendidikan dasar. SPM ditetapkan untuk menjamin tercapainya mutu pendidikan yang diselenggarakan daerah. Permendiknas No 15/2010 telah mengatur SPM untuk pendidikan dasar.

“Kita menunggu Permendiknas tentang SPM SMA/SMK diterbitkan,” tambahnya.
Standar pelayanan minimal pendidikan ini merupakan tolok ukur kinerja pelayanan pendidikan,  sekaligus  sebagai acuan dalam perencanaan program dan penganggaran pencapaian target masing-masing daerah kabupaten/kota.

Terkait penambahkan jumlah sekolah dan ruang kelas, Hamid berjanji akan menggenjot daya tampung di SMA dan SMK untuk dapat menampung limpahan wajib belajar yaitu lulusan SMP, meskipun anak lulusan SMP tidak semua yang melanjutkan ke SMA/SMK.

“Kita akan optimalkan juga lembaga kursus untuk lebih berperan sebagai altenatif untuk menampung lulusan SMP yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Jangan sampai mereka menganggur,” tandasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar